Minggu, 03 Juli 2016

[BOOK REVIEW] The Da Vinci Code

Penulis: Dan Brown

Berawal dari cerita seorang professor simbologi agama—Robert Langdon yang dituduh melakukan pembunuhan terhadap kepala museum di Paris. Jasad seorang kakek bernama Jacques Sauniere terbaring di dalam museum Louvre ditemukan dalam keadaan mengenaskan. Ditubuh korban terlukis simbol pentakel, sebuah gambar yang mengawali teka teki untuk mencari sebuah rahasia besar.

Pesan kematian tersebut disadari oleh seorang wanita bernama Sophia—cucu dari Jacques Sauniere. Ia memberitahukan kepada Langdon bahwa pesan tersebut bukan ditujukan untuk Langdon melainkan kepada dirinya. Terjadi perdebatan kecil diantara mereka sampai akhirnya Langdon yakin bahwa wanita muda didepannya tidak berbohong.

Kode anagram yang berbunyi “O, Draconian Devil. Oh lame Saint” mengarah pada lukisan seorang jenius terkenal bernama Leonardo Da Vinci dengan lukisan legendaris The Monalisa. Lukisan tersebut tersembunyi sebuah kunci yang berbentuk simbol fleur de lis.

Usaha dalam memecahkan kode tersebut, Sophia kabur bersama Langdon yang menjadikan mereka buronan di Paris. Tempat awal yang mereka tuju adalah sebuah Bank penyimpanan rahasia dimana kunci yang dipegang Sophia adalah rekeningnya. Mereka berhasil membuka kode bank dengan deret fibonachi yang ditinggalkan oleh kakeknya. Dalam wasiat tersebut berisi kotak mawar yang didalamnya terdapat cryptex—sebuah benda karya desain Da Vinci untuk menyimpan dokumen rahasia yang ditulis diatas kertas papyrus yang dikelilingi cairan cuka sebagai pelindung dokumen didalamnya.

Mereka membawa cryptex tersebut kepada seorang peneliti sejarah bernama Leigh Teabing. Di dalam rumah Teabing, mereka diserang oleh seorang pengikut fanatik kristus bernama Silas.
Pencarian Langdon dan Sophi oleh polisi belum berhenti. Mereka kabur dengan pesawat milik Teabing dan membawa serta Silas dan seorang pengikutnya bernama Remi menuju London. Dalam perjalanan, mereka berusaha memecahkan kode untuk membuka cryptex yang ditinggalkan oleh Jacques Sauniere.

Dalam perjalanan menuju London juga dikisahkan seorang perempuan Suci bernama Maria Magdalena yang di yakini sebagai istri kristus dan holy grail yang mereka cari. Teka-teki tersebut mengatakan bahwa mereka harus menuju makam seorang ksatria yang pemakamannya dipimpin Paus. Langdon yang mengetahui banyak sejarah mengarahkan perjalanan mereka menuju Gereja Temple, berlokasi di London.

Di dalam gereja, serangan tak terduga datang dari Silas yang bekerja sama dengan Remy untuk merebut cryptex. Mereka kabur dan membawa serta Teabing. Namun, akhirnya Teabing meracuni Remy dan Silas tertangkap di dalam gereja Opus Dei bersama Uskup Aringarosa.

Sementara, Langdon dan Sophia menuju tempat sejarah di London. Tempat salah satu makam ilmuwan dunia yaitu makam Sir Isaac Newton. Tak disangka Teabing mengancam akan membunuh Sophia jika Langdon tidak membuka cryptex tersebut. Sebuah tipuan berhasil mengelabui Teabing sehingga rahasia tentang Holy Grail tidak jatuh ke tangan yang salah. Perintah atas terbunuhnya empat Grand Master ternyata didalangi oleh Teabing, polisi berhasil melacak kejahatannya dan kemudian ia ditangkap.

“Dibawah Roslin kuno cawan suci menanti. Mata pedang dan cawan menjaga di muka gerbangnya. Berhiaskan mahakarya seniman besar, dia terbaring. Bersemanyam di bawah langit penuh bintang.” Demikian hal yang tertuliskan didalam kertas papyrus dalam cryptex. Teka-teki yang membawa mereka menuju Kapel Roslin—tempat dimana Maria Magdalena pernah terbaring. Disinilah Sophia menemukan sejarah hidupnya. Sejarah yang mengatakan bahwa ia adalah salah satu keturunan Merovingian—garis keturunan Kristus dan Maria Magdalena.

Langdon yang telah kembali ke Paris kemudian menyadari teka-teki makam Maria Magdalena. Ia kembali ke piramida Louvre dan memasuki bilik besar, tepat diatasnya menggantung piramida terbalik dan dibawahnya terdapat piramida kecil yang ujungnya saling bertemu. Ia menyadari disitulah Maria Magdalena terbaring.


Novel ini banyak mengisahkan tentang sejarah salah satu agama samawi terbesar didunia. Kisahnya yang “mungkin” bagi sebagian para agamis dianggap sebagai penyelewengan sempat mengundang protes terhadap novel ini. Penulis cerdas yang mengisahkan cerita beralur cepat ini bahkan berani mengambil salah satu topik yang vital. Dalam membaca novel ini sebaiknya para agamis membuka pikirannya bahwa kepercayaan di dunia ini beraneka-ragam dan dengan hati lapang dapat menerima satu sama lain dalam perbedaan tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar