Penulis: Dan Brown
Berawal dari cerita seorang professor simbologi agama—Robert Langdon yang dituduh melakukan pembunuhan terhadap kepala museum di Paris. Jasad seorang kakek bernama Jacques Sauniere terbaring di dalam museum Louvre ditemukan dalam keadaan mengenaskan. Ditubuh korban terlukis simbol pentakel, sebuah gambar yang mengawali teka teki untuk mencari sebuah rahasia besar.
Berawal dari cerita seorang professor simbologi agama—Robert Langdon yang dituduh melakukan pembunuhan terhadap kepala museum di Paris. Jasad seorang kakek bernama Jacques Sauniere terbaring di dalam museum Louvre ditemukan dalam keadaan mengenaskan. Ditubuh korban terlukis simbol pentakel, sebuah gambar yang mengawali teka teki untuk mencari sebuah rahasia besar.
Pesan kematian
tersebut disadari oleh seorang wanita bernama Sophia—cucu dari Jacques
Sauniere. Ia memberitahukan kepada Langdon bahwa pesan tersebut bukan ditujukan
untuk Langdon melainkan kepada dirinya. Terjadi perdebatan kecil diantara
mereka sampai akhirnya Langdon yakin bahwa wanita muda didepannya tidak
berbohong.
Kode anagram yang berbunyi “O, Draconian Devil. Oh lame
Saint” mengarah pada lukisan seorang jenius terkenal bernama Leonardo Da Vinci
dengan lukisan legendaris The Monalisa. Lukisan tersebut tersembunyi sebuah
kunci yang berbentuk simbol fleur de lis.
Usaha dalam memecahkan kode tersebut, Sophia kabur bersama
Langdon yang menjadikan mereka buronan di Paris. Tempat awal yang mereka tuju
adalah sebuah Bank penyimpanan rahasia dimana kunci yang dipegang Sophia adalah
rekeningnya. Mereka berhasil membuka kode bank dengan deret fibonachi yang
ditinggalkan oleh kakeknya. Dalam wasiat tersebut berisi kotak mawar yang
didalamnya terdapat cryptex—sebuah benda
karya desain Da Vinci untuk menyimpan dokumen rahasia yang ditulis diatas kertas
papyrus yang dikelilingi cairan cuka
sebagai pelindung dokumen didalamnya.
Mereka membawa cryptex tersebut kepada seorang peneliti
sejarah bernama Leigh Teabing. Di dalam rumah Teabing, mereka diserang oleh
seorang pengikut fanatik kristus bernama Silas.
Pencarian Langdon dan Sophi oleh polisi belum berhenti.
Mereka kabur dengan pesawat milik Teabing dan membawa serta Silas dan seorang
pengikutnya bernama Remi menuju London. Dalam perjalanan, mereka berusaha
memecahkan kode untuk membuka cryptex
yang ditinggalkan oleh Jacques Sauniere.
Dalam perjalanan menuju London juga dikisahkan seorang
perempuan Suci bernama Maria Magdalena yang di yakini sebagai istri kristus dan
holy grail yang mereka cari.
Teka-teki tersebut mengatakan bahwa mereka harus menuju makam seorang ksatria
yang pemakamannya dipimpin Paus. Langdon yang mengetahui banyak sejarah
mengarahkan perjalanan mereka menuju Gereja Temple, berlokasi di London.
Di dalam gereja, serangan tak terduga datang dari Silas yang
bekerja sama dengan Remy untuk merebut cryptex.
Mereka kabur dan membawa serta Teabing. Namun, akhirnya Teabing meracuni
Remy dan Silas tertangkap di dalam gereja Opus Dei bersama Uskup Aringarosa.
Sementara, Langdon dan Sophia menuju tempat sejarah di
London. Tempat salah satu makam ilmuwan dunia yaitu makam Sir Isaac Newton. Tak
disangka Teabing mengancam akan membunuh Sophia jika Langdon tidak membuka cryptex tersebut. Sebuah tipuan berhasil
mengelabui Teabing sehingga rahasia tentang Holy
Grail tidak jatuh ke tangan yang salah. Perintah atas terbunuhnya empat
Grand Master ternyata didalangi oleh Teabing, polisi berhasil melacak
kejahatannya dan kemudian ia ditangkap.
“Dibawah Roslin kuno cawan suci menanti. Mata pedang dan
cawan menjaga di muka gerbangnya. Berhiaskan mahakarya seniman besar, dia
terbaring. Bersemanyam di bawah langit penuh bintang.” Demikian hal yang
tertuliskan didalam kertas papyrus dalam cryptex.
Teka-teki yang membawa mereka menuju Kapel Roslin—tempat dimana Maria Magdalena
pernah terbaring. Disinilah Sophia menemukan sejarah hidupnya. Sejarah yang
mengatakan bahwa ia adalah salah satu keturunan Merovingian—garis keturunan Kristus
dan Maria Magdalena.
Langdon yang telah kembali ke Paris kemudian menyadari
teka-teki makam Maria Magdalena. Ia kembali ke piramida Louvre dan memasuki
bilik besar, tepat diatasnya menggantung piramida terbalik dan dibawahnya
terdapat piramida kecil yang ujungnya saling bertemu. Ia menyadari disitulah
Maria Magdalena terbaring.
Novel ini banyak mengisahkan tentang sejarah salah satu
agama samawi terbesar didunia. Kisahnya yang “mungkin” bagi sebagian para
agamis dianggap sebagai penyelewengan sempat mengundang protes terhadap novel
ini. Penulis cerdas yang mengisahkan cerita beralur cepat ini bahkan berani
mengambil salah satu topik yang vital. Dalam membaca novel ini sebaiknya para
agamis membuka pikirannya bahwa kepercayaan di dunia ini beraneka-ragam dan dengan
hati lapang dapat menerima satu sama lain dalam perbedaan tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar