Senin, 11 Juli 2016

[BOOK REVIEW] The Monogram Murders

Pengarang: Agatha Christie

Hercule Poirot adalah seorang pensiunan polisi yang menjadi seorang detektif.  Suatu hari di London, ia hendak menikmati makan malam disebuah kedai kopi. Acara makan malamnya sedikit terganggu dengan hadirnya seorang wanita dalam kedai tersebut. Wanita itu bernama Jenni, ia tampak sangat ketakutan dan berkata bahwa dirinya akan dibunuh. Tapi Jenni meminta Poirot untuk tidak mencari siapa yang akan membunuhnya. Dengan tubuh gemetar dan ketakutan ia mengatakan bahwa dengan kematiannya keadilan dapat ditegakkan. Jenni lalu meninggalkan Poirot dikedai kopi dan menghilang.

Disamping itu teman Hercule Poirot, Edward Cathpool, polisi berusia tiga puluh dua tahun ini sedang menghadapi sebuah kasus pembunuhan yang terjadi di Hotel Bloxham. Kasus pembunuhan tersebut melibatkan tiga nyawa. Masing-masing korban terdapat di tiga kamar yang berbeda dengan ciri khas mayat yang serupa—ditempatkan posisi lurus pada lantai dan mulut masing-masing korban terdapat monogram dengan inisial PIJ.

Untuk memulai memecahkan kasus ini, Poirot dan Cathpool melakukan intograsi pada seratus pelayan Hotel termasuk manager hotel Mr. Lazari. Petunjuk demi petunjuk didapatkan dari intograsi, tidak ada kecurigaan dari semua kesaksian mereka sehingga kasus menjadi semakin bias.

Poirot meminta Cathpool untuk pergi ke desa Great Holling—tempat dimana para korban berasal. Awalnya Cathpool bersikeras bahwa Jenni dan Great Holling tidak ada hubungannya dengan kasus ini. Dengan agak terpaksa, Cathpool kemudian menuruti nasehat Poirot. Di desa tersebut ia mendapatkan informasi sangat penting mengenai kematian Patrick James Ive yang memiliki hubungan dengan asal mula pembunuhan di Hotel Bloxham.

Informasi kemudian diberikan kepada Hercule Poirot. Poirot sendiri sedang melacak keberadaan Jenni. Secara tak terduga, terjadi pembunuhan ke empat di Hotel Bloxham. Namun, kasus kali ini berbeda dengan kasus sebelumnya. Pada kasus ini, tidak ditemukan mayat tapi hanya jejak darah. Pelaku kemudian mengarah pada seseorang yang tertuduh yaitu seniman terkenal Nancy Ducane. Tapi Ducane memiliki alibi yang kuat pada malam terjadinya kasus pembunuhan. Sehingga, status tersangkanya masih diragukan.

Kecerdasan Poirot dalam mendengarkan detail introgasi mengantarkan dirinya bertemu pada Jenni. Jenni kemudian menjelaskan bahwa tiga korban di Hotel Bloxham adalah perjanjian eksekusi antara mereka berempat karena penyesalan melakukan fitnah di masa lalu—kasus bunuh diri pasangan Ive.

Cerita Jenni memberikan versi yang berbeda dengan cerita Margaret Ernst, salah satu penduduk di Great Holling. Kemudian, Poirot juga menyelidiki keterlibatan Ducane dalam kasus tersebut. Versi cerita Ducane dan Jenni sama persis.

Berdasarkan hasil analisis Poirot, diketahui bahwa Ducane dan Jenni bersekutu dalam kasus pembunuhan di Bloxham. Pertunjukan analisis dilakukan ditempat yang sama dengan tempat dilakukannya introgasi. Jenni terdiam dengan ungkapan kebenaran yang Poirot berikan, sementara Ducane terus mengelak. Dalam pembelaannya Ducane menyinggung masa lalu Jenni yang membuat ia marah dan menusuk Ducane dengan pisau yang telah ia siapkan didepan orang banyak.


Salah satu novel misteri dengan kecerdasan luar biasa sang detektif—Hercule Poirot. Alur cerita ditulis sangat detail dan setiap babnya penuh misteri yang memikat pembaca untuk lanjut ke bab berikutnya. Novel ini juga masih menampilkan bahasa Prancis yang tidak diterjemahkan ke bahasa inggris atau bahasa Indonesia. Mungkin penerjemah bermaksud untuk menampilkan kesan yang menarik atau bisa saja jika teksnya diartikan akan menimbulkan maksud berbeda untuk setiap orang—mungkin. 

kutipan favorit yang diambil secara subjektif :
"Bagaimana sesuatu yang baik bisa dihasilkan dari pertumpahan darah dan pembunuhan besar-besaran? Bagaimana kemajuan bisa dicapai oleh orang-orang yang hanya ingin merusak dan menghancurkan, yang tidak bisa menceritakan harapan dan impiannya tanpa memberengut benci dan marah?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar