Hercule Poirot adalah seorang pensiunan polisi yang menjadi
seorang detektif. Suatu hari di London,
ia hendak menikmati makan malam disebuah kedai kopi. Acara makan malamnya
sedikit terganggu dengan hadirnya seorang wanita dalam kedai tersebut. Wanita itu
bernama Jenni, ia tampak sangat ketakutan dan berkata bahwa dirinya akan
dibunuh. Tapi Jenni meminta Poirot untuk tidak mencari siapa yang akan
membunuhnya. Dengan tubuh gemetar dan ketakutan ia mengatakan bahwa dengan
kematiannya keadilan dapat ditegakkan. Jenni lalu meninggalkan Poirot dikedai
kopi dan menghilang.
Disamping itu teman Hercule Poirot, Edward Cathpool, polisi
berusia tiga puluh dua tahun ini sedang menghadapi sebuah kasus pembunuhan yang
terjadi di Hotel Bloxham. Kasus pembunuhan tersebut melibatkan tiga nyawa.
Masing-masing korban terdapat di tiga kamar yang berbeda dengan ciri khas mayat
yang serupa—ditempatkan posisi lurus pada lantai dan mulut masing-masing korban
terdapat monogram dengan inisial PIJ.
Untuk memulai memecahkan kasus ini, Poirot dan Cathpool
melakukan intograsi pada seratus pelayan Hotel termasuk manager hotel Mr.
Lazari. Petunjuk demi petunjuk didapatkan dari intograsi, tidak ada kecurigaan
dari semua kesaksian mereka sehingga kasus menjadi semakin bias.
Poirot meminta Cathpool untuk pergi ke desa Great
Holling—tempat dimana para korban berasal. Awalnya Cathpool bersikeras bahwa
Jenni dan Great Holling tidak ada hubungannya dengan kasus ini. Dengan agak
terpaksa, Cathpool kemudian menuruti nasehat Poirot. Di desa tersebut ia
mendapatkan informasi sangat penting mengenai kematian Patrick James Ive yang
memiliki hubungan dengan asal mula pembunuhan di Hotel Bloxham.
Informasi kemudian diberikan kepada Hercule Poirot. Poirot
sendiri sedang melacak keberadaan Jenni. Secara tak terduga, terjadi pembunuhan
ke empat di Hotel Bloxham. Namun, kasus kali ini berbeda dengan kasus
sebelumnya. Pada kasus ini, tidak ditemukan mayat tapi hanya jejak darah.
Pelaku kemudian mengarah pada seseorang yang tertuduh yaitu seniman terkenal Nancy
Ducane. Tapi Ducane memiliki alibi yang kuat pada malam terjadinya kasus
pembunuhan. Sehingga, status tersangkanya masih diragukan.
Kecerdasan Poirot dalam mendengarkan detail introgasi
mengantarkan dirinya bertemu pada Jenni. Jenni kemudian menjelaskan bahwa tiga
korban di Hotel Bloxham adalah perjanjian eksekusi antara mereka berempat
karena penyesalan melakukan fitnah di masa lalu—kasus bunuh diri pasangan Ive.
Cerita Jenni memberikan versi yang berbeda dengan cerita
Margaret Ernst, salah satu penduduk di Great Holling. Kemudian, Poirot juga
menyelidiki keterlibatan Ducane dalam kasus tersebut. Versi cerita Ducane dan
Jenni sama persis.
Berdasarkan hasil analisis Poirot, diketahui bahwa Ducane
dan Jenni bersekutu dalam kasus pembunuhan di Bloxham. Pertunjukan analisis
dilakukan ditempat yang sama dengan tempat dilakukannya introgasi. Jenni
terdiam dengan ungkapan kebenaran yang Poirot berikan, sementara Ducane terus
mengelak. Dalam pembelaannya Ducane menyinggung masa lalu Jenni yang membuat ia
marah dan menusuk Ducane dengan pisau yang telah ia siapkan didepan orang
banyak.
Salah satu novel misteri dengan kecerdasan luar biasa sang
detektif—Hercule Poirot. Alur cerita ditulis sangat detail dan setiap babnya
penuh misteri yang memikat pembaca untuk lanjut ke bab berikutnya. Novel ini juga
masih menampilkan bahasa Prancis yang tidak diterjemahkan ke bahasa inggris
atau bahasa Indonesia. Mungkin penerjemah bermaksud untuk menampilkan kesan
yang menarik atau bisa saja jika teksnya diartikan akan menimbulkan maksud
berbeda untuk setiap orang—mungkin.
kutipan favorit yang diambil secara subjektif :
"Bagaimana sesuatu yang baik bisa dihasilkan dari pertumpahan darah dan pembunuhan besar-besaran? Bagaimana kemajuan bisa dicapai oleh orang-orang yang hanya ingin merusak dan menghancurkan, yang tidak bisa menceritakan harapan dan impiannya tanpa memberengut benci dan marah?"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar