“Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita
tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang
turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya.”
–Novel
Hujan. Hal 201—
Bumi dipenuhi dengan spesies yang menyebut dirinya manusia.
Hingga suatu hari jumlahnya membludak bagaikan virus. Bayi kesepuluh miliyar
telah lahir didunia. Banyak manusia yang tak peduli dengan sekitarnya. Sampai
akhirnya, bumi itu sendiri mengambil tindakan untuk menyeimbangkan segalanya.
Suasana megapolitan selalu tampak ramai dengan para pekerja.
Hari pertama bagi Lail untuk sekolah setelah melewati masa liburan semesternya.
Bersama ibunya, ia menumpang kereta yang bergerak di kedalaman empat puluh
meter didalam tanah. Bertepatan saat itu, salah satu gunung purba belahan dunia
lain meletus, mengakibatkan seluruh dunia ikut merasakan efeknya.
Lail beserta beberapa orang selamat dari gempa yang pertama.
Namun, gempa susulan kembali terjadi saat ia menaiki tangga untuk keluar ke
permukaan. Saat ia terjatuh, beruntung seorang anak laki-laki bernama Esok
menarik tasnya dan keluar di permukaan. Hanya mereka orang yang selamat dari
stasiun bawah tanah—Lail dan Esok.
Hari demi hari di tempat pengungsian mereka lewati bersama.
Esoklah orang yang selalu bersama dan menyemangati hidup Lail. Dimana ada Esok
maka disitu ada Lail. Hingga akhirnya, kota mereka yang luluh-lantak kembali
pulih. Saat itulah kehidupan mereka mulai terpisah. Demi masa depan dan
kesehatan ibu kandung Esok, maka ia menerima penawaran adopsi atas dirinya dari
Walikota. Sementara Lail, ia tinggal di panti dan mendapat teman sekamar yang
baik, ialah Maryam—sahabat terbaik Lail selain Esok.
Hari-hari berlanjut, Lail tak pernah menghubungi Esok dengan
alasan takut mengganggu kuliahnya. Ia sendiri banyak menghabiskan waktu
mengabdi untuk negri dengan bergabung menjadi tim relawan bersama sahabatnya
Maryam.
Lail bertemu Esok hanya sekali dalam setahun, itupun hanya
beberapa jam saling bercerita mengenai pengalaman masing-masing. Esok sangat
sibuk, Lailpun menyadari itu.
Disamping itu, iklim dunia semakin memburuk. Awalnya, bumi
tertutup asap tebal hingga menciptakan musim dingin berkepanjangan di negara
bagian sub-tropis. Untuk mengatasi itu, mereka meluncurkan pesawat ulang-alik
dan menyemprotkan gas anti-sulfur di lapisan stratosfer awan yang menyebabkan
lapisannya rusak dan suhu di Bumi terus meningkat.
Suatu hari, Esok bercerita pada Lail bahwa ia sedang
mengikuti sebuah proyek rahasia yang akan menyelamatkan spesies manusia dari
kepunahan. Ia adalah salah satu ilmuwan cerdas yang tergabung dalam proyek pembuatan
kapal pesiar yang akan terbang keluar dari planet bumi. Ada empat buah kapal yang
dibuat—satu kapal akan mengangkut sepuluh ribu orang yang dipilih secara acak
oleh mesin.
Dari pemilihan tersebut, Esok mendapat tiket untuk naik ke
kapal tersebut sebagai penumpang dan ia juga memperoleh tiket sebagai
penanggung jawab kapal. Dua tiket tersebut diberikan kepada ibu kandung dan saudara
angkatnya. Esok tidak memberitahukan hal ini kepada Lail, Lail yang mencintai
Esok putus asa karena telah dibuat menunggu terlalu lama. Sampai akhirnya ia
memutuskan untuk melakukan penghapusan terhadap kisah sedihnya dengan cara
melakukan operasi modifikasi ingatan.
Maryam tahu akan hal ini. Ia ingin mencegahnya tapi tak bisa
karena operasi tak dapat berhenti. Maryam lalu menelpon Esok yang saat itu
berada di stasiun kereta di kota dimana Lail tinggal. Kemudian melalui telpon,
ia menjelaskan kepada Maryam bahwa ia tak dapat menghubungi mereka karena
sedang melakukan transfer memori untuk kepentingan proyek. Setelah itu, Esok
pergi kerumah sakit untuk menemui Lail dan menembus sistem keamanan. Tapi, ia
terlambat dan operasi telah selesai.
Diakhir kisah, Lail tidak menghapus memorinya tentang Esok.
Tapi ia memilih untuk memeluk semua kenangannya.
Novel yang mengangkat kisah tentang “melupakan” ini membawa
kita ke dalam suasana dunia masa depan yang super-canggih. Perpaduan antara
alur maju dan mundurnya sangat menarik. Banyak juga kalimat-kalimat manis dalam
cerita yang mungkin akan membuat pecinta novel mellow menjadi melting. Perlu
diperhatikan bahwa ini adalah novel science-fiction, romance hanya warna dalam
novel ini.
Cerita ini juga menggunakan alur lambat yang mengisahkan
tentang kehidupan Lail dan Esok dari masa kecil hingga mereka dewasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar