Rabu, 06 Juli 2016

[BOOK REVIEW] Hujan

Penulis: Tere Liye

“Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya.”
 –Novel Hujan. Hal 201—

Bumi dipenuhi dengan spesies yang menyebut dirinya manusia. Hingga suatu hari jumlahnya membludak bagaikan virus. Bayi kesepuluh miliyar telah lahir didunia. Banyak manusia yang tak peduli dengan sekitarnya. Sampai akhirnya, bumi itu sendiri mengambil tindakan untuk menyeimbangkan segalanya.

Suasana megapolitan selalu tampak ramai dengan para pekerja. Hari pertama bagi Lail untuk sekolah setelah melewati masa liburan semesternya. Bersama ibunya, ia menumpang kereta yang bergerak di kedalaman empat puluh meter didalam tanah. Bertepatan saat itu, salah satu gunung purba belahan dunia lain meletus, mengakibatkan seluruh dunia ikut merasakan efeknya.

Lail beserta beberapa orang selamat dari gempa yang pertama. Namun, gempa susulan kembali terjadi saat ia menaiki tangga untuk keluar ke permukaan. Saat ia terjatuh, beruntung seorang anak laki-laki bernama Esok menarik tasnya dan keluar di permukaan. Hanya mereka orang yang selamat dari stasiun bawah tanah—Lail dan Esok.

Hari demi hari di tempat pengungsian mereka lewati bersama. Esoklah orang yang selalu bersama dan menyemangati hidup Lail. Dimana ada Esok maka disitu ada Lail. Hingga akhirnya, kota mereka yang luluh-lantak kembali pulih. Saat itulah kehidupan mereka mulai terpisah. Demi masa depan dan kesehatan ibu kandung Esok, maka ia menerima penawaran adopsi atas dirinya dari Walikota. Sementara Lail, ia tinggal di panti dan mendapat teman sekamar yang baik, ialah Maryam—sahabat terbaik Lail selain Esok.

Hari-hari berlanjut, Lail tak pernah menghubungi Esok dengan alasan takut mengganggu kuliahnya. Ia sendiri banyak menghabiskan waktu mengabdi untuk negri dengan bergabung menjadi tim relawan bersama sahabatnya Maryam.

Lail bertemu Esok hanya sekali dalam setahun, itupun hanya beberapa jam saling bercerita mengenai pengalaman masing-masing. Esok sangat sibuk, Lailpun menyadari itu.

Disamping itu, iklim dunia semakin memburuk. Awalnya, bumi tertutup asap tebal hingga menciptakan musim dingin berkepanjangan di negara bagian sub-tropis. Untuk mengatasi itu, mereka meluncurkan pesawat ulang-alik dan menyemprotkan gas anti-sulfur di lapisan stratosfer awan yang menyebabkan lapisannya rusak dan suhu di Bumi terus meningkat.

Suatu hari, Esok bercerita pada Lail bahwa ia sedang mengikuti sebuah proyek rahasia yang akan menyelamatkan spesies manusia dari kepunahan. Ia adalah salah satu ilmuwan cerdas yang tergabung dalam proyek pembuatan kapal pesiar yang akan terbang keluar dari planet bumi. Ada empat buah kapal yang dibuat—satu kapal akan mengangkut sepuluh ribu orang yang dipilih secara acak oleh mesin.

Dari pemilihan tersebut, Esok mendapat tiket untuk naik ke kapal tersebut sebagai penumpang dan ia juga memperoleh tiket sebagai penanggung jawab kapal. Dua tiket tersebut diberikan kepada ibu kandung dan saudara angkatnya. Esok tidak memberitahukan hal ini kepada Lail, Lail yang mencintai Esok putus asa karena telah dibuat menunggu terlalu lama. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk melakukan penghapusan terhadap kisah sedihnya dengan cara melakukan operasi modifikasi ingatan.

Maryam tahu akan hal ini. Ia ingin mencegahnya tapi tak bisa karena operasi tak dapat berhenti. Maryam lalu menelpon Esok yang saat itu berada di stasiun kereta di kota dimana Lail tinggal. Kemudian melalui telpon, ia menjelaskan kepada Maryam bahwa ia tak dapat menghubungi mereka karena sedang melakukan transfer memori untuk kepentingan proyek. Setelah itu, Esok pergi kerumah sakit untuk menemui Lail dan menembus sistem keamanan. Tapi, ia terlambat dan operasi telah selesai.
Diakhir kisah, Lail tidak menghapus memorinya tentang Esok. Tapi ia memilih untuk memeluk semua kenangannya.

Novel yang mengangkat kisah tentang “melupakan” ini membawa kita ke dalam suasana dunia masa depan yang super-canggih. Perpaduan antara alur maju dan mundurnya sangat menarik. Banyak juga kalimat-kalimat manis dalam cerita yang mungkin akan membuat pecinta novel mellow menjadi melting. Perlu diperhatikan bahwa ini adalah novel science-fiction, romance hanya warna dalam novel ini.


Cerita ini juga menggunakan alur lambat yang mengisahkan tentang kehidupan Lail dan Esok dari masa kecil hingga mereka dewasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar